Tampilkan postingan dengan label Cerpen. Tampilkan semua postingan

Sekedar Matahari Terbit ( Cerpen )

https://blogger.googleusercontent.com/img/b/R29vZ2xl/AVvXsEiX_ImpwyRvZl6oeUWz6qe3BZtoUARKEjEPugPFhrFlTRDkNVpCKPTAwCS8-iOFDJXKzKap4mQ8fAXmnBDtoXR58TwIkAlcMu_NyuodQ3BTem80x9u0xL1JJz7YgzowvtUjJb5Ihx7Q9lNE/s1600/Sunrise+landscape+render+retouches.png

Kamarku menghadap ke arah sinar matahari pagi dan pada pagi hari di musim panas yang cerah hal itu akan membangunkanku dalam keadaan segar dan bugar, tak peduli sampai jam berapa aku bergadang semalam; aku akan bangun dan membuat sarapan, menonton TV, mandi. Jika masih jam enam pagi aku biasanya meminum segelas teh dan kembali ke kasur di mana aku akan tidur sebentar sampai jam tujuh dan bangun dengan rambut acak-acakan.
Jika aku menginap di tempat saudariku, aku tidur sampai anak-anak membangunkanku atau sampai dia datang, menghambur dari belakang sebuah taxi, yang mana saja yang lebih dulu. Aku memang gampang bangun dan penidur pulas.
Pagi ini aku bangun dengan terkejut, seolah jam alarm di kepalaku telah memberikanku sengatan listrik; cuaca di luar tidak cerah, kutarik korden dan langit terlihat berwarna abu-abu gelap, sama halnya dengan warna laut dan kelihatannya matahari tidak akan muncul sebelum besok.

Aku bangun dan turun ke bawah; jam dinding memberitahukanku bahwa sekarang hampir jam setengah tujuh. Aku membuat teh dan roti panggang, menuangkan sereal dan susu ke dalam mangkuk, menaruh semuanya di nampan dan membawanya ke kasurku.
Saudaraku bangun untuk siap-siap bekerja dan kudengar dia menabrak di sekitar kamar mandi, jadi aku turun ke bawah untuk membuat segelas teh. Dia turun ke dapur sekitar lima menit kemudian, mengenakan pakaian kerjanya, matanya hampir terpejam melawan pagi hari, rambutnya entah tegak berdiri ke arah yang tidak seharusnya atau tertempel ke bawah semalaman karena terhimpit bantal. Dia kebanyakan tidur di sisi kirinya, dia punya bekas lipatan di sisi kiri wajahnya dan rambut di sisi kepala tersebut kebanyakan berantakan.
“Pagi.” Kataku.
“Uh huh.”
Kutinggalkan dia untuk membuat apa yang ingin dimakannya dan kembali ke kamarku di mana aku menghabiskan teh dan roti panggangku, menyalakan radio dan kembali ke bawah selimut tipis. Kadang-kadang aku suka berpikir dan di suatu waktu aku suka langsung beringsut di kasur.
Pagi ini aku ingin berpikir sebentar.
***
Hari ini adalah hari ulang tahun ayahku; ibu tidak akan menyebutkannya. Saudaraku mungkin saja, hanya untuk membuat kehebohan, jadi aku akan mengawasinya ketika dia pulang kerja. Setiap tahun pada ulang tahun ayahku aku melukis wajahnya; tiap tahun dia terlihat sedikit berbeda. Aku seorang seniman. Nah, sudah kukatakan. Bukannya aku menggambar garis lebih lurus atau bundaran yang lebih realistis, seperti yang mereka ajarkan pada kita di sekolah. Aku hanya menangkap pesannya lebih jelas daripada orang lain. Lebih jujur. Aku tahu itu.
Aku membaca banyak buku juga, kebanyakan tentang seniman, dan aku melalui tahap ketika aku suka seniman tertentu atau sebuah gerakan. Dan aku mencoba melukis seperti mereka. Ketika ayahku kembali aku akan bisa mengatakan “ini adalah ayah saat aku masih berumur dua belas tahun dan aku sedang jatuh cinta dengan Monet” atau “ini adalah ayah saat hari ulang tahun yang ke-tiga puluh delapan, ketika aku masih berumur empat belas, dan ayah sudah pergi selama lima tahun, dan aku ingin melukis seperti Dante Gabriel Rossetti.” Dan dia akan melihat setiap lukisan dan tahu bahwa aku mencintainya dan tidak pernah melupakannya.
Tahun lalu aku menyetak kaos, menjual hampir semuanya di sekolah, beberapanya karena aku membujuk Kendra untuk menjualnya. Seseorang di pantai mengenakan baju yang berhasil kujual padanya.
Tepat ketika aku terobsesi dengan garis, garis sederhana. Itu merupakan pengembangan enam bulan obsesi yang kumiliki terhadap kaligrafi, yang keluar bersamaan dengan tahap kartunku, yang datang dari Liechtenstein dan Warhol, dan masih banyak lagi. Jadi kukeluarkan arang lukisku, dan kugantungkan kertas besar abu-abu A3 di papan dan mendudukkannya di lutut saat aku duduk di kasur.
Pada Sabtu pagi ketika ibuku berkerja, ayah akan membawaku ke kota dan aku akan mengajaknya berkeliling toko. Pada hari ulang tahunku yang ke delapan dia membelikanku sebuah mainan kuda-kudaan, yang asli, bukan untuk anak-anak. Di hari ulang tahunku yang ke Sembilan dia membelikanku kertas minyak. Di ulang tahunku yang ke enam dia membelikanku sekotak 99 krayon.
“Gambar aku,” katanya.
“Ya ampun Ayah, aku tidak bisa.”
Suatu pagi aku terbangun dan sudah ada sebuah buku di atas bantalku tentang Picasso atau Chagall.
Aku harus pergi ke sekolah, aku benar-benar harus pergi. Aku bukan salah satu anak-anak itu yang takut pergi; aku tidak phobia atau apapun. Aku tidak dijahili dan aku tidak dungu. Aku hanya tidak menemukan alasan yang bagus untuk menyia-nyiakan hariku di kelas untuk belajar fisika atau kewarganegaraan atau agama Budha. Aku bisa mempelajari semua omong kosong itu di perpustakaan. Phil, pengawas kelas sebelas akan menyuruhku untuk belajar keras besok, jika aku masuk. Dalam dua bulan aku sudah menghadapi ujian. Kami membuat perjanjian, aku berjanji akan masuk sekolah dan dia berkata bahwa dia akan melipatgandakannya dengan EWO.
Aku akan mengatakan yang sebenarnya kepada Phil, hari ini adalah hari ulang tahun ayahku dan aku akan menghabiskan waktuku bersamanya.
Jadi aku menghabiskan beberapa saat memikirkan rambutnya yang kupikir mungkin lebih abu-abu daripada tahun lalu; aku tahu rambut tidak menua secara bersamaan setiap tahun, tapi aku membuat rambutnya lebih panjang tahun ini. Dan di pikiranku, aku memberikannya tambahan beberapa kilo juga. Tapi aku tetap menjaga senyumnya di kepalaku, mungkin sedikit bisu, seperti ketika dia sedang senang tapi bingung, atau mencoba untuk mengerti aku ketika aku berceloteh kepadanya.
Saatnya untuk melukis kepala dan pundaknya, jadi aku akan menggambarkannya mengenakan kaos yang memperlihatkan lehernya dan keringkongannya dan betapa kuatnya dia dan bagaimana matanya berkilau dan bagaimana alisnya sangat lurus dan masih hitam.
Aku berpikir berapa banyak yang ingin kutunjukkan dan berapa bayak yang ingin kukatakan padanya.
Lalu aku mengambil sebatang arang lukis dan benar-benar melakukannya. Aku mengambil kapur untuk menambah kesan warna matanya, lalu kapur lain untuk menggambar mulutnya.
Dan di sanalah dia.
Ayah.
Di sanalah ayah.
 
 
Selesai

Sang Bintang ( Cerpen )



http://lintangluku.net/wp-content/uploads/2013/01/1-stars-in-sky.jpg
Ketika dunia mulai berakhir, kau malu terhadap dirimu sendiri karena bercucuran air mata di kamar tidurmu seharian penuh. Kau melihat presiden menangis dan memohon di TV dan itu membuatmu panik. Kau berbaring di tempat tidurmu dengan selimut sampai ke hidungmu, menangis, menolak untuk menjawab panggilan di pintu ketika pembantu, manajermu, asistenmu, dan akhirnya orang tuamu memohon agar kau keluar dari kamarmu.
Setelah dua puluh empat jam, ayahmu melepaskan daun pintu dari engselnya dan menyeretmu ke lantai bawah ke dalam ruang keluargamu yang dihiasi dengan karpet putih dan dipan kulit. Kau menendang dan berteriak sampai dia harus mengangkatmu dan membawamu di pundaknya. Kau memanggilnya brengsek dan mengancamnya untuk mengambil kembali Mercedes yang telah kau beli untunya pada natal tahun lalu.

 
Ibumu duduk dengan khidmat di atas dipan, tangannya mengepalkan tinju di atas koran yang ada di pahanya. Dia bilang semua sudah berakhir.
Kau menatap dengan tajam; kau bertanya apa yang sebenarnya terjadi, dan akankah kau tetap berada di acara talk show bulan depan?
Stasiun televisi semuanya berwarna yang sama dan statis. Ayahmu berkata bahwa acara talk show telah tiada, dan tidak perlu khawatir tentang itu. Dia mengatakan padamu bahwa ada hal yang lebih penting yang sedang terjadi sekarang. Bagaimana bisa kau tidak khawatir? Kau seharusnya melakukan debut bulan depan yang bertepatan dengan rilis albummu yang terbaru.
Ibumu mengatakan padamu bahwa album itu tidak akan jadi, dan dia mengepalkan tinjunya lebih kuat dari sebelumnya. Kau tidak percaya dengan apa yang dia katakan. Bagaimana bisa dia mengatakan itu? Pasti akan ada album. Dan pasti akan ada televisi. Kau mengatai orang tuamu idiot, dan ini akan segera berakhir dalam beberapa hari, segera saat mereka menggantikan presiden pengecut itu.
Ibu mengatakan bahwa dunia akan segera berakhir. Mereka telah menjatuhkan bom, katanya dengan pahit.
Ada berbagai macam penyakit dan racun radiasi yang menyebar ke semua penjuru negara, kata ayahmu.
Tidak di LA, teriakmu dengan nada menantang.
Ibumu memegang koran-koran itu sekali lagi. PERANG berada di tiap halaman depan koran-koran tersebut, bersamaan dengan spekulasi takdir kiamat untuk negara tersebut, termasuk LA. Kau merasa muak, pusing. Kau ingin tahu apa yang telah kau lakukan sehingga pantas untuk menerima ini, dan bagaimana mungkin seseorang dapat melakukan hal seperti itu sebelum kau mendapatkan kesempatan untuk menyelesaikan hal-hal yang sangat berarti untukmu.
***
Dua hari kemudian, ibumu dan ayahmu mendiskusikan cara untuk bertahan hidup, dan mengisi gallon dengan air dari keran untuk mencegah hal-hal yang tidak diinginkan. Ayahmu khawatir kalau-kalau listrik akan padam. Kau duduk di ruang keluargamu khawatir kenapa semua pembantu berhenti bekerja sehari sebelumnya, dan kalau-kalau asistenmu akan memanggilmu kembali. Satu-satunya koneksi ke dunia luar adalah radio, dan sangat susah untuk mendapatkan informasi yang sebenarnya di antara tangisan dan doa di setiap channel. Di stasiun musik pop, dj-nya berkata berulang-ulang bahwa ini hanya soal waktu. Ayahmu mengatakan padamu untuk mengubahnya ke saluran AM karena mereka lebih punya naluri di AM, sialan.
Kau mendengar laporan kematian dan pengrusakan di setiap penjuru negara, dan satu-satunya hal yang kau pikirkan adalah bahwa kau berharap LA akan baik-baik saja. Bahkan setelah laporan orang-orang meninggal di mobil mereka, kau membayangkan Rodeo Drive akan sama seperti sebelum-sebelumnya, tidak tersentuh oleh hal nakal seperti perang, kegilaan dan kematian. Bagaimana bisa tempat seindah Hollywood dihancurkan? Tidak ada yang berani mengacaukan LA, katamu, dan ayahmu tidak akan melihatmu di matamu.
Ketika listrik padam malam hari itu, matamu dipenuhi dengan tangisan frustasi, dan kau menyalakan lilin beraroma yang telah kau simpan untuk saat-saat spesial. Radionya masih memiliki baterai, tapi itu tak akan bertahan lama. Ayahmu mengatakan padamu untuk menjaganya, dan berhenti untuk menyalakan radio terlalu lama. Kau mengatakan padanya untuk diam, dan bahwa kau bisa mendapatkan beribu baterai. Laki-laki yang ada di radio mengatakan bahwa sebagian besar dari pesisir timur telah dihancurkan, bersamaan dengan Detroit dan Chicago. Dia mengatakan bahwa radiasi sedang mengarah ke arah barat dengan kecepatan siaga, dan kau berharap kau punya map sehingga kau akan tahu maksudnya. Daripada cemas, kau mengeluarkan cat kuku pink edisi terbatas itu dan mulai mem-pedicure dirimu. Itu tidak lama sampai kau menumpahkan botolnya, dan cat kuku tersebut tumpah ke karpet sampai akhirnya kau tidak berhenti menangis.
Pagi harinya, ayahmu mengatakan padamu bahwa ibumu sangat sakit, dan dia sendiri merasa kurang sehat. Kau menggulung matamu dan menyuruh mereka untuk mengambil beberapa pepto, tapi di dalam dirimu, kau tidak tahan membayangkan kemungkinan mereka akan mati dan meninggalkanmu sendirian, jadi kau kembali ke kamarmu dan duduk di depan jendela. Halamanmu terlihat sama. Tidak ada kematian dan pengrusakan pada propertimu, tapi kau khawatir dengan apa yang berubah di luar pagar depanmu.
Siang harinya, kau membawa empat rekor emas-mu dan tiga penghargaan Grammy ke atas, ke kamarmu jadi kau bisa melihat mereka. Jari-jarimu menjejejaki namamu yang tertera di penghargaan-penghargaan itu berulang-ulang, dan kau tidak mengerti bagaimana bisa seseorang yang telah melakukan hal sebanyak ini dalam waktu sesingkat itu harus melewati sesuatu yang mengerikan seperti ini. Kau adalah sang bintang, demi Tuhan, kau pantas untuk mendapatkan yang lebih baik daripada ini.
Ayahmu sedang memanggilmu dari ruang depan. Dia terdengar sakit. Suaranya serak berkali-kali, dan dia tersendat-sendat di antara kata-katanya. Kau tidak ingin dia muntah di karpet di ruang depan, tapi kau menutup mulutmu. Jika dia muntah, wanita yang biasanya membersihkan rumah akan membersihkannya besok. Kau menarik selimut ke atas dagumu dan menutup matamu. Suara ayahmu terdengar jauh dan semakin jauh sekarang saat kau menggenggam Grammy itu dekat ke dadamu dan menutup matamu dalam-dalam.
Besok kau akan bangun dan hal-hal akan menjadi lebih baik. Besok kau akan ada di Tonight Show, dan tampil mempesona seperti biasanya. Besok agenmu akan meminta maaf karena tidak meneleponmu. Besok kau akan tetap menjadi seorang bintang.
 
 
 
Tamat 

SHE ( Cerpen )


 http://fc06.deviantart.net/fs50/i/2013/176/3/9/she_s_only_happy_in_the_sun__by_himbeerkuss-d2d6mov.jpg


Dia duduk di tepi dek berbingkai A, memandang ke arah pintu kaca. Saat itu musim panas, agak lembab. Dia tidak begitu modis dalam berpakaian: sebuah kemeja ekspedisi lengan pendek berwarna abu-abu dengan dua kantong di depan – satu dengan sebuah pensil mekanik; kasar, satu set celana konversi perisai serangga yang robek di beberapa tempat oleh semak duri. Lengan bawahnya, beraromakan sisa wangi minyak lemon eucaliyptus pengusir serangga, cukup kuat untuk menunjukkan bahwa dia bisa menghempaskan dirinya ke tanaman-tanaman liar; kaki telanjangnya cukup berotot untuk membuktikan dia telah berjalan di tanah keras.
Matanya mengikuti padang rumput yang landai: lebih jauh, dataran rawa garam yang terpisah oleh muara yang meliuk-liuk; lebih jauh lagi, sepetak dataran batu granit yang muncul ke permukaan bumi; lebih jauh lagi, rawa muncul kembali ke hutan dataran tinggi. Satu-satunya suara yang dia dengar adalah suara dengung kulkas tua, kicau jangkrik, suara kabut dari punuk sebuah pulau di lepas pantai.
Selama tiga minggu terakhir dia menghitung burung-burung, membuat daftar entri ke dalam komputer: 1 Guternatch ekor sedang; 2 Truncated Pipsqueaks; 1 Roasted Titmouse; 1 burung hantu Nappy-headed Hoot; 4 betina slinker berkulit keras; 1 elang laut albino; 1 landak; 2 Slack-jawed Yokels.
Dia senang sendirian; lebih baik daripada bekerja di gedung bertingkat di perkotaan. Hari itu hari yang cerah, dan dia tidak memikirkan suatu tempatpun untuk dikunjungi – setidaknya.
“Tak  menarik?” dia berkata kasar, nampaknya tidak kepada seorang pun. “Kau menyebut pemanas cokelat membosankan?”
Itu dia – tidak menarik. Aku bisa memutuskan. Apakah itu merupakan pembenaran dari interupsi atas adegan yang telah direncanakan?
“Baiklah, aku tidak suka apa yang telah kau lakukan. Apakah kau serius akan meninggalkanku sendirian di suaka burung ini? Berapa lama?”
Tak begitu lama.
“Oh, yang benar saja.”
Dia akan menemui orang baru.
“Tapi kau bilang aku suka sendirian.”
Ya, dan tidak.
“Sebenarnya siapa dan apa yang akan terbangun oleh jari-jari kakiku yang tampak maskulin di tempat sunyi ini?”
Bukan sunyi. Itu firdaus – seperti di surga. Aku suka kakinya.
“Oh, ayolah. Aku harus seperti apa?”
Dia seorang ahli ilmu burung.
“Oh, Bung. Apa yang dipertaruhkan di sini?”
Dia sangat cerdas; dengan gelar Ph.D. ilmu biologi dari Universitas Cornell. Tesisnya mengenai anatomi reproduksi burung kalkun betina liar.
“Dan kau menyebut dirimu penulis.”
Menurutku dia menarik.
“Tentu, jika kau mati.”
Percayalah.
“Apa aku punya nama, atau kau akan terus memanggilku “dia” sampai akhir cerita?”
Belum kuputuskan. Aku sedang memikirkan “Midge”, atau apapun, aku tak tahu; Akan kutemukan nanti.
“Kau pasti bercanda. Apa aku meminta untuk menjadi serangga berbau, berotot, berkaki besar bernama Midge – sang ahli ilmu burung di lembar fiksi biasa-biasa saja oleh penulis fiksi kelas dua atau tiga?”
Lihat? Dia mulai menunjukkan tanda-tanda seorang wanita intelek.
“Berhentilah memanggilku “dia”, dan, tidak, aku tidak meminta untuk itu. Tidak menjadi apapun adalah lebih baik dari apa yang kau rencanakan untukku.”
Dia akan jatuh cinta.
“Di antah berantah? Brilian.”
Dia akan bertemu seorang pria di tengah hutan.
“Apa, sepertimu?”
Aku tidak bisa menghentikan ceritanya. Aku telah menciptakannya, dan aku akan melakukan sesuatu padanya.
“Baiklah kalau begitu. Ubahlah adegannya. Manhattan, bagaimana menurutmu, dan pronto?”
Manhattan keras dan bau. Di sinilah pria itu dan burung-burung--
“Sepertinya belum cukup. Buatlah aku menjadi agen sastra New York yang seksi.”
Aku tidak ingin dia jadi agen sastra yang seksi. Aku ingin dia menjadi seorang ahli ilmu burung.
“Takut aku akan menolakmu dan juga bukumu?”
Dengar; adegannya adalah suaka burung terpencil. Dia adalah seorang ahli ilmu burung yang kerjanya menghitung burung. Dia akan jatuh cinta pada seorang pria yang dia temui secara kebetulan di hutan. Ingin aku mengubah kakinya? Berikan dia kaki kecil yang halus – layaknya penari balet? Mengenakannya sepatu ballet yang berenda di sekitar pergelangan kakinya saat dia memandang ke arah pintu kaca, menghitung burung?
“Dan aku bisa membuka tiga kancing atas kemeja ekspedisiku, seperti ini, lihat? – karena terlalu panas, dan sekarang aku membungkuk melepas tali sepatu baletku--.”
Jika aku ingin menelanjanginya, bisa saja.
“Kurang ajar.”
Tapi bukan itu yang kupikirkan. Dia seorang intelek. Ini adalah cerita cerdik.
“Oke, perhatikan aku, Tuan Cerdik, sementara aku menekan tombol terbang pada tempat serangga membosankanku, membuka reslitingnya setengah ke bawah karena sangat ketat, menyandarkan panggulku pada meja dapur dari kayu pinus yang belum selesai. Mendekatlah; kau telah memberiku sebuah tato kecil dan penuh seni satu inci di atas cukuran, minyak lemon eucalyptus kotor--“
Aku tidak melakukan hal semacam itu.
“Jadi kemungkinan aku tak ingin berada dalam cerita ini.”
Dia tak memiliki pilihan.
“Benarkah?”
Dia tidak bisa keluar begitu saja.
“Lihat aku. Di luar pintu kaca ini. Dan berhentilah memanggilku dia.”
Itu merupakan suatu sudut padat. Beberapa novelis memenangkan hadiah Nobel pada sastra menggunakan sudut pandang wanita orang ketiga tunggal itu sendiri.
“Lihat aku.”
Hujan akan turun – sangat lebat. Dengan petir dan guntur. Dan juga beruang-beruang.
“Kata-kata murahanmu tidak menakutkan buatku.”
“Anjing hutan, kucing liar, rubah rabies, kerbau. Aku tak bercanda – kau harus berhati-hati. Aku khawatir.
Oh benarkah? Dia tak peduli? Baiklah, mari lihat seberapa lama dia bisa bertahan, menggeser membuka pintu kaca, menutupnya di belakangnya, berjalan bertelanjang kaki (oh, kaki yang indah) keluar ke padang rumput yang subur dan hijau, langit penuh dengan awan, udara berat membayangi badai, dia, berjalan menyusuri lereng panjang menuju muara garam, seekor capung terbang melewatinya, bergetar, menggetarkan sayapnya yang mungil, meluncur di udara yang tenang, dia, menjadi lebih kecil dan kecil dengan meningkatnya jarak, menghilang ke balik padang rumput di atas muara rumput, selamanya.
Oh, jangkrik-jangkrik mengerik melankolis, mesin kulkas berdengung membuat bingkai tua itu tiba-tiba diam tak tertahankan, mercusuar bersejarah meratapi 156 tahun menutup diri. Dia dalam perjalannya menuju Manhattan.
Selesai

Janji ( Cerpen )

https://sukatulis.files.wordpress.com/2011/06/janji2.jpg
Ribuan helm bergerak dengan tiba-tiba ke belakang saat kapal tandu tersebut tercebur ke dalam gelapnya air. Percikan air laut berkilauan di permukaan manapun yang disentuhnya, menangkap cahaya tembakan artileri. Prajurit Eddie Hagen memandang sekilas pada wajah-wajah orang di sekitarnya. Beberapanya sedang berdoa, sementara yang lainnya memegang foto atau kenang-kenangan dari kekasih dan keluarga sebelum memasukkannya kembali dengan hati-hati ke dalam jaket mereka. Sisanya menatap dengan tatapan kosong entah ke arah mana, wajah mereka tidak memiliki ekspresi, tanpa mengkhianati perasaan di dalam hati.
“Ini dia, kawan!”

Eddie berhasil tersenyum untuk membalas tepukan lembut di pundaknya dan berputar ke belakang untuk mengakui pertemanannya.
“Akhirnya kita akan menendang beberapa bokong orang Nazi!” Vince DeLanzio menyeringai ke arah Eddie. “Ingatlah, nak, peraturannya sama seperti ketika masih di pemukiman dulu. Tetap bersamaku. Kita berdua akan baik-baik saja. Di samping itu, saudarimu tak akan mau menikahiku jika aku membiarkan sesuatu terjadi padamu.”
“Kau tahu Vinnie, itu sangat lucu. Malah dia yang memintaku untuk menjagamu.”
Tiba-tiba, kedua pria itu terperanjat oleh sebuah ledakan yang menghantarkan lebih banyak percikan lagi ke dalam kapal. Raungan suara mesin pesawat memenuhi langit. Ketika pesawat-pesawat itu melintas di atas kepala mereka, garis-garis ‘invasi’ hitam dan putih yang terlukis di bawah badan pesawatnya dapat terlihat. Tanda tersebut membuat pasukan aliansi mengetahui bahwa mereka adalah teman, untuk perlindungan melawan senjata anti-pesawat-tempur mereka. Para tentara memperhatikannya saat mereka melintas melewati tembakan anti-pesawat-tempur dan melewati karang-karang terjal.
“Keparat! Apa kau lihat garis pantai itu, Vince? Bagaimana mungkin kita bisa menaiki karang-karang terjal itu? Kita tidak akan bisa apa-apa, hanya tinggal menunggu para Fritz itu meledakkan kita semua sampai berkeping-keping!”
“Mereka memang sedang meledaki kita sampai berkeping-keping sekarang, kawan! Secara pribadi, aku akan mengambil kesempatanku di pantai itu daripada berada di jebakan maut ini. Lihat ke arah sana! Paling tidak sudah dua kapal seperti ini yang tenggelam satu mil di depan!”
Eddie mencoba menyesuaikan perlengkapannya dan merperbaharui genggaman pada riffle-nya. Di tengah-tengah kekacauan dan tembakan artileri yang semakin bertubi-tubi tanpa henti, dia memikirkan kunjungan terakhirnya ke pantai yang lain, Coney Island. Semasa SMA-nya, saat cuaca semakin hangat, dia akan pergi membolos dengan Vince dan berbocengan ke pantai. Vince selalu menjadi yang lebih berani. Menjadi yatim piatu pada umur dini membuat dia dibesarkan oleh seorang bibi. Tanpa bimbingan seorang ayah, dia sudah tumbuh menjadi seseorang yang pandai berurusan dengan masalah kota dan sok hebat.
Di sisi lain, Eddie lebih beruntung karena dia mempunya keluarga yang lengkap dan penyayang. Ayahnya adalah orang yang baik dan penyayang. Dan temperamen ibunya yang khas seperti orang Irlandia telah membuatnya seperti sekarang. Saudarinya, Tess, mempunyai semangat dan kecantikan yang sama seperti ibu mereka. Vince telah tertarik pada Tess selama bertahun-tahun. Kenyataannya, Eddie yakin bahwa temannya sedang jatuh cinta.
Vince dan Eddie sudah mendaftarkan diri mereka untuk menjadi anggota Angkatan Laut di saat bersamaan. Setelah menjalani latihan dasar, mereka berdua telah menjadi besar kepala layaknya burung merak di hadapan keluarga dan teman-temannya. Sebagai pejuang resmi, mereka sekarang akan bergabung dalam pertempuran melawan orang-orang Jerman. Ketika tiba saatnya untuk mengucapkan salam perpisahan, Eddie menghindari tatapan pada kedua mata orang tuanya. Namun, dia tidak bisa menghindari tatapan mata Tess. Dengan mata berlinang, Tess meyuruhnya berjanji untuk menjaga dirinya sendiri, juga Vince. Lalu dia berbalik menghadap temannya, menempatkan tangan di pundaknya, dan menciumnya untuk yang pertama kali. Vince melihatnya berlari naik ke atas menuju kamarnya, meninggalkannya yang sudah tak sanggup lagi untuk berdiri7. Sambil mencoba untuk tetap tegar, dia menyampaikan salam perpisahannya dan berjalan ke luar pintu.
Tiba-tiba, teriakan perintah dari pemimpin pasukan menghentikan lamunan Eddie. Dinding belakang kapal menabrak air dan segerombolan orang-orang berjalan ke depan. Menjatuhkan diri ke permukaan es, para Angkatan Laut tersebut terengah-engah bersamaan dengan dinginnya es yang menusuk menembus pakaian mereka. Kedalaman yang hijau dan gelap membuat kebanyakan dari mereka menggelepar, terjatuh keberatan dengan perlengkapan berlebihan. Ini, ditambah dengan bom mortir yang mengarah pada mereka dari puncak bukit, membuat mereka percaya bahwa mereka telah melihat hari terakhir mereka.
Saat Eddie berupaya maju ke bibir pantai, sebuah peluru menembus pria di depannya, membuatnya jatuh ke belakang. Dia sempat melihat ke dalam matanya yang sudah tidak memiliki sinar kehidupan sebelum laut menutup wajah tentara tersebut dan menjadi bersemangat.
Sedetik kemudian, Eddie merasakan rasa perih yang begitu menusuk di sebelahnya. Sebelum kehilangan keseimbangan, dia merasakan sebuah lengan kokoh menariknya ke atas.
“Apa kau baik-baik saja kawan?”
Eddie menggelengkan kepalanya saat Vince berusaha menenangkan dirinya. Perairan menjadi lebih dangkal, namun gulungan kawat-kawat berduri menjadi masalah baru. Yang lainnya menangis kesakitan ketika mereka terjatuh atau terpeleset ke dalam barikade. Akhirnya, keduanya melihat sebuah peluang dan berlari tak beraturan ke arah pesisir, dengan cepat diikuti oleh yang lainnya.
“Di mana kau tertembak, Ed?” kekhawatiran terlihat pada wajah Vince saat matanya mencari sumber dari noda merah yang secara perlahan-lahan mengalir ke bawah.
“Tepat di bawah pundak. Ya ampun, mulanya terasa sangat sakit sekali. Sekarang rasanya kebas.” Eddie terengah-engah dan menjatuhkan kepalanya di atas pasir basah.
“Berikan peralatanmu.”
Eddie mengangkat kepalanya saat dia merasakan temannya membuka perlengkapannya, dan mengendurkan tali pengikat dari pundaknya.
“Apa yang kau lakukan Vince?”
“Aku mau kau mulai merangkak ke arah bukit itu. Apa kau melihat celah di sana? Pergilah ke sana. Kau tidak akan bisa mencapainya dengan keadaanmu yang sekarang dan semua perlengkapan ini. Aku akan tetap di belakangmu. Sekarang pergilah!”
Tembakan semakin manjadi-jadi, tapi Eddie mengucapkan doa dengan pelan dan merangkak menuju dinding karang. Mayat-mayat dan orang-orang sekarat bergelimpangan di sekitar. Ironisnya, mereka dapat digunakan sebagai pelindung. Saat dia mencapai tempat tujuannya, sebuah lengan menggapai dan menangkap kerah jaketnya, menariknya ke dalam tempat yang aman. Di dalam karang perlindungan tersebut, Eddie dapat melihat yang lainnya di dalam celah.
“Apa kau melihat temanku?”
“Aku tidak banyak melihat apapun yang bisa bergerak sekarang, kawan.”
Eddie mengamati ke dalam sudut gelap dan menyadari seragam tentara Inggris. Suara gemelutuk memenuhi telinganya, dan dia menyadari bahwa itu adalah suara giginya. Sadar bahwa dia tidak dapat menahan ketakutannya, dia ingin, paling tidak, dapat menahan rasa mengigilnya. Memandang sekilas pria di sebelahnya, dia melihat bahwa dia juga sedang gemetaran.
Kabut dari laut perlahan mulai naik, hanya untuk bercampur dengan asap dari bom mortir. Eddie duduk bersandar pada dinding karang, merasa lemah dan tak berdaya. Lebih banyak lagi orang yang datang ke pesisir, dan berusaha untuk bertahan hidup. Mereka membuat kemajuan. Dia bertanya-tanya berapa lama lagi pertempuran ini akan berakhir, dan tentang keberadaan Vince.
Saat menoleh ke ujung pantai, dia melihat punggung dari sosok yang dikenalnya. Dengan tentara-tentara berlarian ke sana kemari, Eddie sadar dia tidak bisa melepaskan tatapan matanya pada sosok satu-satunya itu. Perlahan, orang tersebut berbalik, dan menghadap tatapan heran Eddie. Sisi kiri wajahnya telah hancur terkena ledakan peluru meriam. Lengannya bergelantungan di sampingnya. Bahkan dengan setengah badan yang tercabik-cabik, Eddie tahu bahwa itu adalah Vince. Kedua pria itu saling bertatapan. Eddie tidak dapat berucap atau bergerak sama sekali. Dia hanya bisa menatap wajah temannya. Akhirnya, Vince berbalik, dan menghilang ke dalam asap dan kekacauan pertempuran.
“Aku menyesal tentang kawanmu, Yank. Dia mungkin berbalik menyusuri bibir pantai, ke tempat di mana kita seharusnya berada sekarang.”
Suara tersebut menyadarkan diri Eddie, dan menariknya ke belakang. Tetap saja dia tidak dapat berkata-kata. Tatapan pada mata Vince sebelum dia menghilang berkelebatan di pikiran Eddie. Itu mungkin tatapan puas karena mengetahui temannya selamat, dan bahwa dia telah menjaga janjinya kepada orang yang dicintainya. Itu mungkin juga sebuah salam perpisahan terakhir.
Beberapa saat kemudian, saat petugas medis mengobati lukanya, Eddie mendapati dirinya sedang berbaring di antara ratusan tentara yang sekarat dan mati. Semarak kemenangan bergema di mana-mana. Bercak-bercak darah menodai pasir, dan ledakan-ledakan berkelanjutan dari pertempuran terdengar di kejauhan. Bagaimanapun, untuk sekarang, rintihan dan teriakan para tentara memenuhi udara.
“Ini, kawan, merokoklah.”
Eddie melihat wajah petugas medis tersebut dan menggumamkan ‘terima kasih’ saat dia menerima tawarannya. Masih gemetaran, dia mengangkat sebatang rokok ke bibirnya dan menghirupnya pelan-pelan. Sambil bersandar, dia hanya bisa memikirkan kenyataan bahwa dia sedang berada di pantai. Udaranya dingin, sama seperti Coney Island saat musim semi. Coney Island.
Dia menoleh saat beberapa tentara Inggris berjalan di antara barisan jasad-jasad yang berserakan. Seseorang berhenti untuk menggeser beban yang dibawa di pundaknya, sebelum melanjutkan perjalanan. Eddie dapat melihat bahwa itu adalah jasad seorang Prajurit, kedua lengannya bergelantungan dan tak bernyawa.
Petugas medis tersebut menghentikannya, dan mengangkat kepala anak itu.
“Kau membuang-buang waktu, Bung. Orang ini sudah mati.”
Sambil tetap lanjut berjalan, tentara tersebut menjawab dari balik pundaknya. “Aku berjanji pada ibunya bahwa aku akan menjaganya.”
Sambil menggelengkan kepalanya, petugas medis tersebut mengalihkan perhatiannya.
“Berjanji pada ibunya.” Kata-kata tersebut berputar-putar di kepala Eddie. Janji. Seluruh pantai dipenuhi oleh janji yang tak dapat ditepati, namun Vince telah berhasil menjaga janjinya. Rokoknya jatuh ke pasir melewati jarinya. Matahari sekarang bersinar melewati kabut, menirukan Komidi Putar di kejauhan sana. Air memukul-mukul di bibir pantai, dan pekikan burung-burung camar, di suatu tempat, beralih menjadi gelak tawa anak-anak. Eddie menutup matanya lalu menangis.
 
Selesai

Undian ( Cerpen )

http://archive.digtriad.com/images/640/360/2/assetpool/images/110510063931_640x360_961526634296339325206348.jpg


Pada suatu pagi tanggal 27 Juni, cuacanya cerah dengan kehangatan musim panas menggantung di udara; bunga-bunga bermekaran dan rerumputan mengeluarkan warna kehijauan yang terang benderang. Masyarakat desa mulai berkumpul di alun-alun kota yang berada di antara kantor pos dan bank pada sekitar jam sepuluh pagi; di beberapa kota lainnya yang mempunyai populasi lebih banyak, acara penarikan undian dapat memakan waktu sampai dua hari dan harus sudah dimulai pada tanggal 2 Juni. Namun di desa ini, yang hanya mempunyai sekitar tiga ratus penduduk, proses penarikan undian hanya akan memakan waktu kurang dari dua jam, sehingga acaranya dapat dimulai pada jam sepuluh pagi dan orang-orang masih akan sempat pulang ke rumah dan menikmati santap siang mereka.

Anak-anak jelas telah berkumpul duluan di sana. Sekolah baru saja memasuki masa liburan musim panas, dan rasa kebebasan telah merasuk ke dalam jiwa mereka; mereka cenderung berkumpul bersama-sama dengan tenang selama sebentar sebelum mereka memulai permainan mereka dengan riuh dan ramai. Topik pembicaraan mereka masih saja tentang sekolah, guru, buku, dan hukuman-hukuman yang pernah mereka terima. Bobby Martin telah memenuhi kantongnya dengan bebatuan, dan anak-anak yang lain pun mengikutinya dan mulai memilih batu yang paling bundar dan halus; Bobby, Harry Jones, dan Dickie Delacroix—para warga melafalkannya ‘Dellacroy’—akhirnya membuat tumpukan besar batu-batu kerikil di salah satu sudut alun-alun kota dan menjaganya agar tidak diambil oleh anak-anak yang lain. Para anak-anak perempuan berdiri di sisi lain dan hanya saling berbincang di antara mereka sambil melirik ke arah para anak lelaki. Dan anak-anak yang masih sangat kecil bergulingan di tanah atau menempel di tangan kakak mereka.
Tidak lama kemudian, kaum pria mulai berkumpul dan mengamati anak-anak mereka sambil mengobrol tentang perkebunan, hujan, traktor, dan pajak. Mereka berdiri bersama-sama, jauh dari tumpukan kerikil, dan mereka saling bercanda dengan suara yang dipelankan dan tertawa mereka digantikan dengan seutas senyuman halus. Kaum wanita, yang mengenakan pakaian sehari-hari mereka yang telah lusuh, mulai berdatangan juga. Mereka saling menyapa dan bertukar gossip sambil berlalu pergi untuk bergabung dengan suami mereka. Kemudian para wanita, yang telah berdiri di samping suami mereka, mulai memanggil anak-anaknya, dan anak-anak pun menurutinya dengan enggan setelah dipanggil empat atau lima kali. Bobby Martin mengelak ketika ibunya hendak menangkapnya, dia tertawa dan berlari kembali ke tumpukan kerikil. Ayahnya menegurnya dengan keras, dan Bobby pun dengan cepat memposisikan dirinya di antara ayah dan kakaknya.
Acara penarikan undian—sama halnya dengan festival tari, klub remaja, dan acara Halloween—diselenggarakan oleh Mr. Summers yang mempunyai waktu dan tenaga untuk dicurahkan pada kegiatan masyarakat. Dia adalah pria periang yang memiliki wajah yang bundar serta bisnis pertambangan batu-bara, dan orang-orang merasa kasihan padanya karena dia tidak memiliki anak dan istrinya selalu marah-marah padanya. Ketika dia tiba di alun-alun sambil membawa kotak hitam yang terbuat dari kayu, orang-orang mulai berbisik satu sama lain, kemudian dia melambaikan tangannya dan berkata, “Maaf, aku sedikit terlambat hari ini.” Kepala kantor pos yang bernama Mr. Graves mengikutinya dari belakang sambil membawa sebuah bangku berkaki tiga, kemudian menaruhnya di tengah alun-alun, lalu Mr. Summers meletakkan kotak hitam yang dipegangnya di atas bangku tersebut. Dan ketika Mr. Summers berkata, “Ada yang bersedia menolongku?" semua orang tampak ragu-ragu. Mr. Martin dan anak sulungnya, Baxter, melangkah maju untuk memegangi kotak tersebut di atas bangku agar seimbang sementara Mr. Summers mengaduk kertas-kertas yang ada di dalamnya.
Perlengkapan asli untuk penarikan undian telah lama hilang, dan kotak hitam yang sekarang berdiri tegak di atas bangku itu telah digunakan bahkan sebelum Warner Tua, yang merupakan orang tertua yang ada di desa tersebut, lahir. Mr. Summers sering membujuk masyarakat untuk membuat kotak yang baru, tapi tidak ada yang menyukai gagasannya, karena menurut mereka menggunakan kotak hitam tersebut merupakan tradisi turun-temurun yang tidak boleh tergantikan. Ada sebuah cerita yang mengisahkan bahwa kotak hitam tersebut dibuat dari puing-puing kotak hitam sebelumnya oleh para pendahulu mereka yang mendirikan desa tersebut. Setiap tahunnya, setelah prosesi penarikan undian selesai, Mr. Summers mulai membicarakan rencana pembuatan kotak yang baru, namun setiap tahun juga, topik tersebut dibiarkan menguap dan perlahan menghilang dari buah bibir setiap orang, tanpa sedikitpun usaha untuk mewujudkannya. Kotak hitam tersebut menjadi lebih lusuh daripada sebelumnya; sekarang kotak itu tampak tidak lagi berwarna hitam sepenuhnya. Di satu sisi, catnya mengelupas dan menunjukkan warna yang sebenarnya, dan di beberapa tempat catnya telah luntur atau bernoda.
Mr. Martin dan putra sulungnya, Baxter, memegangi kotak tersebut dengan erat di atas bangku sampai Mr. Summers selesai mengaduk kertas-kertas di dalamnya. Karena banyaknya ritual yang telah dilupakan atau diabaikan, Mr. Summers berhasil membujuk warga menggunakan lembaran kertas untuk menggantikan kepingan kayu yang telah digunakan selama beberapa generasi. Mr. Summers berkilah bahwa menggunakan kepingan kayu merupakan ide yang bagus, tapi itu hanya berlaku ketika desa mereka masih kecil, namun sekarang populasinya telah berkembang menjadi lebih dari tiga ratus orang dan kemungkinan akan terus bertambah, sehingga harus menggunakan sesuatu yang dapat dimuat di dalam kotak dengan lebih mudah. Semalam sebelum acara penarikan undian, Mr. Summers dan Mr. Graves membuat lembaran kertas tersebut lalu menaruhnya di dalam kotak, kemudian kotaknya dikunci di dalam brankas perusahan Mr. Summers sampai Mr. Summers siap untuk membawanya ke alun-alun kota keesokan harinya. Di hari-hari lain, kotak tersebut disimpan di suatu tempat, terkadang di tempat lain; kotak tersebut telah menghabiskan waktunya selama satu tahun di gudang Mr. Graves dan tahun lalu di bawah lantai kantor pos, dan terkadang ditaruh di toko kelontong milik keluarga Martin dan dibiarkan terbengkalai di sana.
Ada satu hal merepotkan yang harus diselesaikan sebelum Mr. Summers mengumumkan bahwa acara penarikan undiannya dimulai. Dia harus membuat daftar nama-nama kepala keluarga beserta anggota keluarganya. Ada ritual pelantikan khusus bagi Mr. Summers, selaku panitia penyelenggara penarikan undian, yang dilakukan oleh kepala kantor pos; dulu, seingat warga, ada sebuah lagu yang dinyanyikan oleh panitia penyelenggara. Namun itu hanyalah lagu yang dinyanyikan dengan nada monoton dan tidak dengan sungguh-sungguh setiap tahunnya; beberapa warga yakin bahwa ketua panitia dulunya harus berdiri selama menyanyikannya, yang lain yakin bahwa ketua panitia harus berjalan di antara warga, namun bertahun-tahun yang lalu bagian ritual ini pun ditinggalkan. Ada juga ritual penghormatan yang dulunya harus dilakukan oleh ketua panitia kepada setiap orang yang maju untuk menarik undian, namun ini juga telah berubah seiring berlalunya waktu, sehingga sekarang panitia penyelenggara hanya diwajibkan untuk berbicara singkat kepada setiap orang yang maju mendekat. Mr. Summers sangat baik dalam menangani semua ini; dengan dibalut kemeja putih dan celana jins biru dan dengan satu tangan diletakkan di atas kotak sambil berbicara tak berkesudahan dengan Mr. Graves dan keluarga Martin, dia tampak sangat layak sebagai ketua panitia dan terlihat penting di mata warganya.
Ketika Mr. Summers selesai berbicara dan mulai berbalik menghadap warga, Mrs. Hutchinson datang dengan tergesa-gesa, lengan kausnya melorot turun sampai ke bawah pundaknya, lalu dia mencari tempat di kerumunan warga. “Aku lupa kalau hari ini penarikan undian karena sibuk bersih-bersih,” ujarnya pada Mrs. Delacroix yang berdiri di sampingnya, dan mereka pun tertawa renyah. “Kukira suamiku ada di belakang rumah dan sedang mengumpulkan kayu bakar,” lanjut Mrs. Hutchinson. “kemudian aku melihat keluar jendela dan anak-anak sudah tidak ada, lalu aku ingat kalau ini tanggal dua puluh tujuh dan segera berlari kemari.” Dia mengeringkan tangan dengan celemeknya, lalu Mrs. Delacroix berkata, “Kau tidak terlambat. Mereka masih berbicara di sana.”
Mrs. Hutchinson menjulurkan lehernya ke atas dan melihat suami dan anaknya sedang berdiri di barisan depan. Dia menepuk pelan lengan Mrs. Delacroix sebagai tanda perpisahan dan mulai menerobos melewati kerumunan warga. Orang-orang berhumor sambil memberikannya jalan untuk lewat; dua atau tiga orang berceletuk dengan suara yang cukup keras sampai bisa terdengar ke barisan depan, “Ini dia Bini-mu, Hutchinson,” dan “Bill, dia datang juga rupanya.” Mrs. Hutchinson akhirnya sampai juga di tempat suaminya, dan Mr. Summers yang telah sedari tadi menunggunya berkata dengan nada riang, “Kami pikir kami harus memulai acara ini tanpa dirimu, Tessie.”
Mrs. Hutchinson menjawabnya dengan tersenyum, “Kau tidak mau aku meninggalkan piring-piring kotorku di rumah, ‘kan, Joe?” kemudian tawa pelan menggema di kerumunan warga.
“Baiklah,” kata Mr. Summers dengan nada serius, “sepertinya lebih baik kita memulainya sekarang, jadi kita dapat segera pulang dan kembali bekerja. Apa ada yang tidak hadir?”
“Dunbar.” Sahut beberapa orang. “Dunbar. Dunbar.”
Mr. Summers melihat kembali daftar yang dibawanya. “Clyde Dunbar.” Ujarnya. “Aku baru ingat, bukankah dia mengalami patah kaki? Siapa yang akan mewakilinya menarik undian?”
“Aku,” sahut seorang wanita dan Mr. Summers berpaling melihatnya. “Istri dapat mewakili suaminya.”
Mr. Summers menjawab, “Bukankah kau punya seorang putra yang telah dewasa, Janey? Dia dapat menggantikanmu melakukannya.” Walaupun Mr. Summers dan semua warga tahu jawabannya, namun sudah menjadi kewajiban seorang penyelenggara undian untuk menanyakan pertanyaan semacam itu secara resmi. Mr. Summers menunggu dengan sebuah ekspresi yang menunjukkan ketertarikan saat Mrs. Dunbar akhirnya menjawab, “Horace masih berumur enam belas tahun.” Katanya dengan nada menyesal. “Sepertinya aku harus menggantikan suamiku tahun ini.”
“Baiklah.” Kata Mr. Summers. Dia membuat catatan di daftar yang sedang dipegangnya. Kemudian dia bertanya, “Apakah Watson akan menarik undian tahun ini?”
Seorang anak bujang dengan tubuh tinggi mengangkat tangannya. “Di sini,” sahutnya. “Aku akan menarik undian untuk ibuku dan aku sendiri.” Dia mengedipkan matanya dengan tegang dan menundukkan kepalanya ketika beberapa suara dari arah kerumanan berkata, “Dia anak yang baik.” Dan “Syukurlah kalau ibumu memiliki seorang anak lelaki untuk mewakilinya.”
“Oke,” kata Mr. Summers, “sepertinya sekarang sudah lengkap. Apakah Warner Tua datang?”
“Aku di sini,” sahut sebuah suara, dan Mr. Summers pun mengangguk.
Tiba-tiba semua orang hening ketika Mr. Summers berdeham dan memeriksa daftarnya. “Semuanya sudah siap?” tanyanya. “Sekarang aku akan memanggil nama-nama kepala keluarga dan orang yang kupanggil harap maju ke depan mengambil kertas yang ada di dalam kotak. Setelah itu, jangan membuka kertasnya sampai semua orang selesai dipanggil. Apa semuanya sudah jelas?”
Semua warga sudah mendengarkan ini berkali-kali sehingga mereka tidak terlalu memperhatikannya lagi; kebanyakan dari mereka hanya diam saja, beberapanya membasahi bibir mereka, dan tidak melirik kesana-kemari. Kemudian Mr.Summers mengangkat satu tangannya dan memanggil, “Adams.” Seorang pria maju ke depan. “Hai, Steve.” Sambut Mr. Summers, dan Mr. Adams menjawab, “Hai, Joe.” Mereka saling tersenyum kaku kepada satu sama lain. Kemudian Mr. Adams memasukkan tangannya ke dalam kotak dan mengambil sebuah kertas yang terlipat. Dia menggenggamnya dengan erat dan kembali ke tempatnya semula di mana dia berdiri sedikit lebih jauh dari keluarganya tanpa melirik ke tangan yang memegang kertas tersebut.
“Allen.” Panggil Mr. Summers. “Anderson… Bentham.”
“Sepertinya akhir-akhir ini penarikan undian semakin sering dilakukan.” Ujar Mrs. Delacroix kepada Mrs. Graves di barisan belakang. “Kalau tidak salah baru minggu lalu kita mengadakannya.” Lanjutnya.
“Tak terasa waktu berjalan begitu cepat.” Jawab Mrs. Graves.
“Clark… Delacroix.”
“Itu dia suamiku.” Kata Mrs. Delacroix. Dia menahan napas saat suaminya maju ke depan.
“Dunbar,” panggil Mr. Summers, dan Mrs. Dunbar maju ke depan dengan langkah yang pasti ketika seorang wanita berseru. “Ayo maju, Janey,” dan yang lain menyahut, “Nah, itu dia.”
“Selanjutnya giliran kami lagi.” Ujar Mrs. Graves. Dia memperhatikan dengan seksama ketika Mr. Graves maju dari samping kotak, memberi salam kepada Mr. Summers dengan nada yang dingin, lalu memilih selipat kertas dari dalam kotak. Sekarang, di kerumunan warga, beberapa orang sedang menggenggam selembar kertas yang dilipat sambil memutar-mutarnya di tangan mereka dengan gelisah. Mrs. Dunbar yang saat itu memegang lipatan kertas berdiri di sana dengan kedua putranya.
“Harburt… Hutchinson.”
“Ayo maju ke sana, Bill,” kata Mrs. Hutchinson, dan orang-orang yang berada di dekat mereka tertawa.
“Jones.”
“Ada yang bilang,” ujar Mr Adams kepada Warner Tua yang berdiri di sebelahnya, “kalau desa di utara berencana untuk berhenti mengadakan penarikan undian.”
Warner Tua menjawab sambil mendengus, “Dasar mereka orang-orang bodoh,” jawabnya. “Mereka mau-maunya mendengarkan kata anak-anak muda. Kalau semua kata mereka dituruti, nantinya mereka bakal menghasut semua orang untuk tinggal di gua saja, tidak akan ada lagi yang mau bekerja dan hidup dengan santai-santai. Kalau dulu kita berkata, ‘Undian di bulan Juni, dan jagung pun akan tumbuh subur.’ Maka nantinya bisa-bisa kita makan sup rumput dan biji-bijian saja. Pokoknya, undian harus selalu diselenggarakan,” tambahnya dengan tegas. “Bahkan sekarang saja keadaannya sudah cukup buruk karena Joe Summers muda hanya mengumbar lelucon di depan sana.”
“Beberapa desa bahkan sudah tidak lagi menyelenggarakan undian.” Kata Mrs. Adams.
“Mereka hanya mencari-cari masalah saja,” komentar Warner Tua dengan gigih. “Dasar orang-orang gila.”
“Martin.” Dan Bobby Martin pun memperhatikan ayahnya maju ke depan. “Overdyke… Percy.”
“Kuharap mereka dapat mempercepatnya,” kata Mrs. Dunbar kepada putra sulungnya. “Kuharap mereka dapat lebih cepat.”
“Mereka sudah hampir selesai,” jawab anaknya.
“Kau harus siap-siap berlari dan memberitahu ayahmu,” kata Mrs. Dunbar.
Mr. Summers memanggil namanya sendiri dan maju tepat di depan kotak tersebut dan memilih satu lipatan kertas. Kemudian dia memanggil, “Warner.”
“Sudah tujuh puluh tujuh kali aku menghadiri acara penarikan undian,” ujar Warner Tua sembari dia berjalan melewati kerumunan warga agar dapat maju ke depan. “Tujuh puluh tujuh kali.”
“Watson.” Seorang anak remaja berbadan tinggi maju dengan langkah yang canggung. Seseorang berujar, “Jangan cemas, Jack,” dan Mr. Summers berkata, “Santai saja, nak.”
“Zanini.”
Setelah itu semua orang pun hening, dan menahan napas mereka, sampai Mr. Summers mengangkat lipatan kertas miliknya dan berkata, “Baiklah, mari kita buka kertas masing-masing.” Selama satu menit tidak ada yang berani bergerak, dan akhirnya semua kertas telah terbuka. Tiba-tiba semua kaum wanita mulai berbicara sekaligus, “Siapa yang dapat?” “Apakah keluarga Dunbar?” “Apa keluarga Watson?” kemudian sebuah suara berkata, “Bill Hutchinson yang mendapatkannya.”
“Pergilah dan beritahu ayahmu,” perintah Mrs. Dunbar kepada anak sulungnya.
Orang-orang mulai melihat ke arah keluarga Hutchinson. Bill Hutchinson hanya dapat berdiri tanpa berkata apa-apa sambil menatap kertas di tangannya. Tiba-tiba Tessie Hutchinson berteriak kepada Mr. Summers, “Kau tidak memberikannya cukup waktu untuk memilih kertas yang diinginkannya. Aku melihatnya sendiri. Ini tidak adil!”
“Kau harus menerima hasil ini, Tessie.” Sahut Mrs. Delacroix, dan Mrs. Graves pun menambahkan, “Semuanya diberikam kesempatan yang sama.”
“Diamlah, Tessie,” kata Bill Hutchinson.
“Baiklah, mohon perhatiannya,” ujar Mr. Summers, “kita sudah menyelesaikan tahap pertama dengan sangat cepat, sekarang kita harus melakukannya dengan lebih cepat agar dapat selesai tepat pada waktunya.” Dia mengamati daftarnya yang lain. “Bill,” sahutnya, “kau menarik undian untuk keluarga Hutchinson. Apa kau punya keluarga lain di dalam keluargamu?”
“Ada Don dan Eva,” teriak Mrs. Hutchinson. “Minta mereka menarik undiannya juga!”
“Anak perempuan menarik undian dengan keluarga suami mereka, Tessie,” ujar Mr. Summers dengan pelan. “Kita semua sudah tahu itu.”
“Ini tidak adil,” kata Tessie.
“Kurasa tidak ada lagi yang lain, Joe.” Ujar Bill Hutchinson dengan nada menyesal. “Anak-anak perempuanku menarik undian dengan keluarga suami mereka; itu peraturan yang adil. Dan hanya ada anak-anakku di dalam keluargaku.”
“Kalau begitu, kau menarik undian untuk keluargamu,” jelas Mr. Summers, “dan kau juga yang menarik undian untuk seluruh keluarga Hutchinson, benar begitu?”
“Benar,” jawab Bill Hutchinson.
“Berapa anak-anakmu yang ada sekarang, Bill?” Tanya Mr. Summers dengan nada yang resmi.
“Tiga,” jawabnya. “Ada Bill Jr., Nancy, dan si kecil Dave. Lalu Tessie dan aku.”
“Baiklah, kalau begitu,” ujar Mr. Summers. “Harry, sudah kau ambil kembali kertas-kertasnya?”
Mr. Graves mengangguk dan mengangkat kertas-kertas yang semula dipegang oleh semua orang. “Masukkan ke dalam kotak,” perintah Mr. Summers. “Ambil juga kertas milik Bill lalu masukkan juga.”
“Kurasa kita harus mengulanginya dari awal,” celetuk Mrs. Hutchinson sepelan mungkin. “Sudah kubilang ini tidak adil. Kau tidak memberikannya waktu yang cukup. Semua orang melihatnya.”
Mr. Graves mengeluarkan semua kertas yang tersisa di dalam kotak, lalu memilih lima kertas dan memasukkannya ke dalam kotak. Angin berhembus menghempaskan kertas-kertas yang ditumpahkan.
“Dengarkan aku,” Mrs. Hutchinson berbicara kepada semua orang yang ada di sekitarnya.
“Siap, Bill?” Tanya Mr. Summers, dan Bill Hutchinson melirik sekejap ke arah istri dan anak-anaknya, lalu mengangguk.
“Ingat,” kata Mr. Summers, “ambil selembar dan jangan membukanya sampai semuanya selesai menarik. Harry, kau tolong bantu Dave kecil.” Mr. Graves memegang tangan anak tersebut yang dengan menurut maju bersamanya ke depan kotak. “Ambil selembar kertas dari dalam kotak, Davy.” Ujar Mr. Summers. Davy pun memasukkan tangannya ke dalam kotak dan tertawa. “Ambil selembar saja.” lanjut Mr. Summers. “Harry, kau yang pegang kertasnya.” Mr. Graves mengambilnya dari tangan Dave yang menggenggam erat kertas tersebut, lalu memegangnya sementara Dave kecil hanya berdiri di sampingnya dan memandangnya dengan ekpresi bertanya-tanya.
“Selanjutnya Nancy,” sahut Mr. Summers. Nancy telah berumur dua belas tahun, dan teman-teman sekolahnya bernapas dengan berat ketika dia maju ke depan sembari merapikan roknya, lalu memilih satu lembar kertas dari dalam kotak. “Bill Jr.,” panggil Mr. Summers, dan Billy, dengan wajah yang memerah dan dengan kaki yang besar, hampir menendang kotak tersebut saat dia mengambil selembar kertas. “Tessie,” panggil Mr. Summers. Dia ragu-ragu sebentar, lalu mengedarkan tatapannya dengan tajam ke sekelilingnya. Akhirnya dia pun mengatupkan bibirnya dengan erat dan maju ke depan kotak. Dia mengambil selembar kertas dengan cepat lalu memegangnya di belakang.
“Bill,” panggil Mr. Summers, kemudian Bill Hutchinson memasukan tangannya ke dalam kotak dan memutar-mutarnya di sana, lalu mengeluarkan tangannya dengan secarik kertas di genggamannya.
Semua warga hanya berdiam diri. Seorang anak perempuan berbisik pelan, “Kuharap bukan Nancy,” dan suara bisikannya pun bergema dan terdengar sampai ke pinggir barisan.
“Semuanya sudah tidak seperti dulu lagi.” Kata Warner Tua dengan suara yang jelas. “Orang-orang sudah tidak lagi bersikap sama seperti dulu.”
“Baiklah,” kata Mr. Summers. “Buka kertasnya. Harry, tolong kau buka kertas milik Dave kecil.”
Mr. Graves membuka lipatan kertasnya dan semua orang mendesah saat dia mengangkat kertas tersebut dan semua orang dapat melihat kalau kertas tersebut kosong. Nancy dan Bill Jr. membuka kertas mereka secara bersama-sama, lalu keduanya tersenyum berseri-seri dan tertawa. Mereka kemudian berbalik dan mengangkat kertas mereka sampai di atas kepala.
“Tessie,” sahut Mr. Summers. Dia hanya diam saja, kemudian Mr. Summers melirik Bill Hutchinson, dan Bill pun membuka lipatan kertasnya lalu menunjukkanya kepada semua orang. Kertasnya kosong.
“Tessie yang mendapatkannya,” ujar Mr. Summers dan suaranya terpotong oleh seseorang. “Tunjukkan kepada kami kertas milik Tessie, Bill.”
Bill Hutchinson berjalan menuju tempat istrinya dan menarik paksa kertasnya dari genggamannya. Ada titik hitam di kertasnya, titik hitam yang telah dibuat Mr. Summers semalam dengan pensil di kantor perusahaannya. Bill Hutchinson mengangkat kertasnya dan semua warga pun mulai ramai.
“Baiklah,” ujar Mr. Summers. “Mari kita selesaikan ini dengan cepat.”
Walaupun warga telah melupakan banyak bagian ritualnya dan juga kotak hitam yang asli, namun mereka masih memakai batu. Tumpukan batu yang telah dibuat oleh anak-anak sebelumnya telah siap; ada banyak batu di tanah bersama dengan kertas-kertas yang telah dihembuskan angin sebelumnya. Mrs. Delacroix memilih batu yang sangat besar sehingga ia harus mengambil dengan kedua tangannya, kemudian dia berbalik menghadap Mrs. Dunbar, “Ayo,” sahutnya. “Ayo, cepat.”
Mrs. Dunbar menggenggam batu kecil di kedua tangannya, lalu menjawab dengan napas yang terputus-putus, “Aku tidak bisa berlari. Kau duluan saja, nanti aku akan menyusul.”
Anak-anak sudah siap dengan batu mereka, dan seseorang memberikan Davy kecil beberapa batu kerikil.
Tessie Hutchinson sekarang berada di tengah-tengah kerumunan warga. Dia mengangkat tangannya dengan putus asa ketika para warga maju ke arahnya. “Ini tidak adil,” ujarnya. Sebongkah batu menimpa sisi kepalanya. Warner Tua berkata, “Ayo, semuanya, ayo.” Steve Adams berada di depan kerumunan warga bersama dengan Mrs. Graves yang berada di sampingnya.
“Ini tidak adil, ini tidak benar,” teriak Mrs. Hutchinson, dan mereka semua pun menghujaninya dengan batu.


Selesai